Welcome to My Blog
Kami adalah sekumpulan orang yang peduli dengan keadaan perkembangan riset dan teknologi di Indonesia kita tercinta ini. .: Dept. Riset & Teknologi BEM ITTelkom:.
Featured Posts
Peneliti Ungkap Misteri Jumlah Air Di Planet Bumi
Peneliti memecahkan pertanyaan sulit berapa banyak air yang ada di lautan?. Menariknya, hasil yang didapat dari data saltelit itu tak beda jauh dengan perkiraan 1888.
Samudera lautan masih menjadi tempat yang paling mengundang misteri di Bumi ini. Maka, sekelompok ilmuwan baru-baru ini mencoba mengukur seberapa persis dalamnya samudera dan seberapa banyak air laut yang ditampung.
Matthew Charette, ilmuwan di Department of Marine Chemistry and Geochemistry, WHOI AS yang ambil bagian dalam penelitian untuk mengaudit semua air di planet ini.
Menurut laman LiveScience.com, tim peneliti menggunakan pengukuran dari satelit untuk mendapat perkiraan yang lebih tepat. Hasilnya, untuk sementara ini, samudera lautan diyakini memiliki kedalaman rata-rata hingga 12.080,7 kaki atau 3.682,2 meter dan menampung air laut sebanyak 0,3 miliar kubik mili atau 1,332 miliar kubik kilometer.
Angka terbaru yang didapat lebih sedikit dari perkiraan-perkiraan sebelumnya. "Bila ingin tahu volume air laut di planet ini, cobalah cari di laman Google dan kita bisa-bisa mendapat lima data yang berbeda, sebagian besar merupakan hasil perkiraan 30 atau 40 tahun yang lalu," kata Charette,
Kini Charette dan wakil penyelidik Walter HF Smith, seorang ahli geofisika dari National Environmental Satellite, Data and Information Service of the National Oceanic and Atmospheric Administration AS hadir dengan gambaran terbaru akan volume laut dengan menggunakan pengukuran satelit.
Kegiatan mereka sebagian didanai oleh EarthWater Institute yang kemudian diterbitkan di edisi terbaru jurnal Oceanography.
Para peneliti melaporkan volume total laut di dunia lebih sedikit, dari estimasi terbaru dengan volume yang setara dengan 5 kali Teluk Meksiko atau 500 kali dari Great Lake. Meskipun tampak banyak, ini hanya sekitar 3% lebih rendah dibandingkan estimasi pada 30 tahun lalu.
Apa yang mungkin tampak menarik, kata Charette, adalah bagaimana akurasi peneliti pada masa lalu menggunakan teknik kasar untuk mengukur kedalaman laut.
Pada 1888, John Murray mengukur volume dengan tali yang dijatuhkan dari kapal untuk mengalkulasi volume laut, yang hebatnya hanya 1,2% lebih tinggi dari apa yang dilaporkan Charette dan Smith saat ini.
Rendahnya volume air laut dibandingkan dari hasil pengukuran-pengukuran sebelumnya bukan disebabkan karena menyusutnya air laut di samudera, namun lebih karena pengukuran terkini mampu mendeteksi rangkaian gunung di bawah laut dan formasi lain yang membentuk cekungan-cekungan di dasar samudera.
Penginderaan lewat satelit menunjukkan bahwa dasar samudera ternyata, "Punya gelombang yang lebih besar dan punya banyak gunung dari yang diduga," kata Walter Smith, peneliti dari Badan Kelautan dan Atmosfir AS (NOAA).
Satelit juga bisa mendata berbagai bentuk dasar samudera yang ada di muka Bumi, terkecuali di sejumlah wilayah di perairan Kutub Utara yang diselimuti salju. Maka, menurut Smith, satelit tidak saja membantu mengukur kedalaman samudera dan volume air laut, namun juga bisa menghasilkan peta dunia baru.
Masalahnya, pengukuran lewat satelit juga punya kelemahan. "Ada masalah pada resolusi ruang, seperti kamera yang tidak fokus," kata Smith. "Kami mengukur permukaan laut yang dipengaruhi oleh pegunungan. Namun, kita hanya melihat gunung-gunung yang besar dan itupun tidak fokus. Resolusinya 15 kali lebih rendah dari peta Mars dan bulan," lanjut Smith kepada LiveScience.com.
Konsekuensinya, peneliti harus membutuhkan pengukuran dari kapal untuk menyempurnakan pantauan dari satelit. Sejauh ini, sonar dari kapal maupun dengan instrumen lain hanya mampu mendata 10 persen dari seluruh dasar laut.
Masalahnya, menurut Smith, pengukuran dari kapal membutuhkan waktu yang lama. Bila hanya memakai satu kapal maka bisa memakan waktu 200 tahun untuk mendata semua bentuk dasar laut yang ada di muka bumi. Maka, bila memakai 10 kapal akan memakan waktu sekitar 20 tahun. Demikian perkiraan dari Angkatan Laut AS.
Hasil studi pengukuran samudera yang turut didanai EarthWater Institute itu akan dijelaskan secara rinci dalam jurnal "Oceanography" edisi Juni. (suaramedia.com/ humasristek)
Industri Penerbangan Penyumbang Terbesar Pemanasan Global
10 tahun mendatang, lalu lintas pesawat di udara diperkirakan akan semakin padat. Hal itu menyebabkan polusi di udara akan meningkat, sekaligus menjadi faktor utama pemicu pemanasan global.
Studi yang dilakukan ACS Environmental Science & Technology, mengungkapkan bahwa karbondioksida dan gas lainnya yang dikeluarkan pesawat terbang akan terus meningkat dan jumlahnya akan meningkat dua kali lipat bahkan lebih pada tahun 2050.
ACS mencatat bahwa saat ini industri penerbangan memang belum menjadi salah satu penggerak utama dari pemanasan global, bahkan tidak termasuk dalam Protokol Kyoto. Lalu lintas udara Global saat ini memberikan kontribusi antara dua dan tiga persen emisi karbon dioksida.
Para ilmuwan, yang menggunakan model komputerisasi memperkirakan emisi karbondiokasida akan meningkat tiga kali lipat dalam 50 tahun mendatang.
"Di tahun 2100, emisi karbondioksida akan meningkat tujuh kali lipat dibandingkan level yang ada tahun ini,' tulis para ilmuwan dalam jurnal ACS Environmental Science & Technology seperti dilansir Sciencedaily, Senin (31/5/2010).
Para ilmuwan mengatakan, walaupun telah terjadi kemajuan yang signifikan dalam efisiensi bahan bakar pada teknologi pesawat dan manajemen operasional, tapi ini tak sebanding dengan peningkatan lalu lintas udara. (okezone.com/ humasristek)
Dampak Negatif dari Wifi
Wi-fi (wireless fidelity) yang lebih dikenal sebagai jaringan lokal nirkabel semakin populer terutama di negara-negara maju dan berkembang. Dengan wi-fi orang bisa masuk ke jaringan internet tanpa harus repot menyambungkan kabel dari komputer ke line telepon.
Di balik kemudahan yang ditawarkan wi-fi, ada beberapa keyakinan publik yang menganggap wi-fi berdampak negatif terhadap kesehatan. Mereka yang tidak setuju dengan kehadiran wi-fi beralasan radiasi elektro magnetik dari wi-fi bisa menyebabkan nyeri di kepala, gangguan tidur dan mual-mual, terutama bagi mereka yang electrosensitive. Tapi benarkah wi-fi berbahaya bagi kesehatan?
Ketakutan akan dampak buruk wi-fi terhadap kesehatan ini dimentahkan ilmuwan Inggris. Seperti yang diungkapkan Sir William Stewart, ketua Health Protection Agency, mengatakan pada BBC Programme Panorama, tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan teknologi wi-fi. Tak ada bukti pasti yang menyebutkan, perangkat seperti ponsel dan wi-fi menyebabkan kesehatan terganggu.
Hal senada juga diungkapkan Professor Lawrie Challis, dari Nottingham University. Dalam pernyataannya pada BBC, Prof Challis, yang menjabat sebagai ketua Mobile Telecommunications and Health Research (MTHR) menyebutkan: "Radiasi elektro magnetik dari Wi-fi sangat kecil, pemancarnya juga berkekuatan rendah, selain itu masih ada jarak dengan tubuh.
"Bisa jadi radiasi elektro magnetik sangat dekat dengan tubuh, ketika kita memangku laptop, namun dalam pengamaatan saya setiap orang tua akan meminta anak mereka untuk tidak terlalu sering menggunakan ponsel mereka dan selalu meminta mereka untuk menaruh laptop di atas meja, bukan di pangkuan, jika mereka berinternet terlalu lama."
Untuk mendukung pernyataan ini, tim Panorama BBC mengunjungi sebuah sekolah di Norwich, yang memiliki seribu siswa, dan mencoba membandingkan tingkat radiasi dari ponsel dan penggunaan wi-fi di dalam kelas. Hasilnya menunjukkan radiasi wi-fi di ruang kelas tiga kali lebih besar dibanding pancaran yang dikeluarkan ponsel.
Namun ahli kesehatan psikis Professor Malcolm Sperrin mengatakan sinyal wi-fi yang lebih besar tiga kali lipat dibanding radiasi ponsel di suatu sekolah masih belum relevan, karena belum ditemukan pengaruhnya terhadap kesehatan.
"Wi-fi adalah teknologi yang menggunakan gelombang radio elektro magnetik rendah, yang sebanding dengan oven microwave, bahkan 100 ribu kali lebih rendah dari microwave."
Tipe radiasi yang dipancarkan gelombang radio (wi-fi), microwaves, dan ponsel telah menunjukkan kenaikan level temperatur jaringan yang sangat tinggi, yang biasa disebut thermal interaction, namun masih belum ada bukti level tersebut menyebabkan kerusakan.
Health Protection Agency menyebutkan duduk di ruangan yang memiliki hotspot selama setahun sebanding dengan gelombang radio yang dipancarkan saat bercakap-cakap dengan ponsel selama dua puluh menit.
"Gelombang radio sudah menjadi bagian dari kehidupan kita selama hampir seabad atau lebih, namun jika ada gangguan yang signifikan terhadap kesehatan, pasti ada kajian yang akan mencatatnya, dan selama ini berbagai studi masih belum menemukan bukti transmisi wi-fi bagi kesehatan.
Hal senada juga didukung Professor Will J Stewart, rekan dari Royal Academy of Engineering, yang mengatakan: "Ilmu pengetahunan telah mempelajari pengaruh ponsel bagi kesehatan selama bertahun-tahun dan kekhawatiran akan dampak radiasi ponsel masih sangat kecil.
"Begitu juga dengan wi-fi, jika digunakan dalam batas yang wajar tak akan ada pengaruhnya bagi kesehatan dalam waktu yang lama. Namun bukan berarti semua radiasi elektro magnetik tak berbahaya, misalnya sinar matahari yang terbukti menyebabkan kanker kulit, jadi jika Anda menggunakan laptop saat berjemur di pantai, ada baiknya mencari tempat yang teduh," tambah Sperrin yang mengatakan sampai saat masih belum ada banyak bukti yang cukup berrarti akan dampak negatif wi-fi.
Namun yang lebih dikhawatirkan Sperrin bukan pada gelombang wi-fi, namun pada perilaku dalam penggunaan laptop, dan panas yang dihasilkan laptop pada beberapa bagian sensitif pada tubuh, yang berdampak pada kesehatan. (sayakasihtahu.com/ humasristek)
Memristor, Lebih Dahsyat Daripada Transistor
Setiap orang yang pernah mengambil kelas laboratorium elektronika pasti akrab dengan komponen fundamental dalam sebuah sirkuit listrik: resistor, kapasitor, dan induktor.
Semuanya ada tiga, tapi sebenarnya ada empat. Satu lagi, yakni memristor, digagas pertama kali oleh Leon Chua, profesor teknik elektro dan ilmu komputer di University of California Berkeley, 1971 lalu. Menurut Chua, komponen resistor yang memiliki memori atas arus listrik yang pernah melintasinya ini pantas menjadi komponen fundamental keempat karena tidak bisa digantikan oleh kombinasi apapun dari tiga komponen lainnya.
Syarat pembuktiannya yang butuh arus listrik dalam perangkat listrik berskala nano, sepermiliar meter, membuat memristor selama 50 tahun belakangan lebih banyak hidup di awang-awang para ahli fisika ataupun komputer. Hingga akhirnya R. Stanley Williams, peneliti senior di Hewlett-Packard dan direktur di Laboratorium Informasi dan Sistem Quantum muncul dengan laporannya yang dimuat jurnal Nature terbaru.
Bersama Dmitri B. Strukov, seorang pakar fisika teori; Gregory S. Snider, arsitek komputer; dan Duncan R. Stewart yang ahli fisika eksperimen, Stanley memformulasikan sebuah saklar elektronik berskala nanometer yang mampu mengingat apakah ia dalam kondisi mati atau menyala ketika sumber listriknya diputus. Keempatnya berhasil membuktikan fungsi memristor nyata.
Keberhasilan itu menghidupkan kembali mimpi untuk bisa mengembangkan sistem-sistem elektronik dengan efisiensi energi yang jauh lebih tinggi daripada saat ini. Caranya, memori yang bisa mempertahankan informasi bahkan ketika power-nya mati, sehingga tidak perlu ada jeda waktu untuk komputer untuk /boot up/, misalnya, ketika dinyalakan kembali dari kondisi mati. Seperti menyala-mematikan lampu listrik, ke depan komputer juga bisa dihidup-matikan dengan sangat mudah dan cepat.
Keberhasilan 'menghidupkan' komponen memristor bahkan diyakini bisa mencipta sistem yang kemampuannya menyamai otak manusia. "Ini perkembangan yang menakjubkan," kata Chua. "Saya tidak pernah mengira bahwa saya masih memiliki umur untuk menyaksikan hal ini terjadi."
Stanley dan timnya menunjukkan kalau dua rangkaian memristor-konfigurasi yang disebut crossbar latch- dapat melakukan pekerjaan sebuah transistor. Padahal, selama puluhan tahun perkembangan sebuah model dan konfigurasi chip banyak dibuat dengan menambah lebih banyak transistor dalam sebuah sirkuit listrik alias IC.
Semakin padat komponen dalam satu papan sirkuit, kita semua tahu, menambah beban panas dan cacat rangkaian listrik. "Nah, ketimbang menambah jumlah transistor dalam sirkuit yang sama, kami bisa mencipta sirkuit listrik hibrid dengan transistor yang lebih sedikit dan menambah memristor," kata Stanley.
Memristor yang berukuran jauh lebih kecil daripada transistor konvensional juga memainkan peranan kunci dalam masa depan industri elektronik, dan merintis ke arah pembenaran apa yang disebut Hukum Moore. Gordon Moore, satu diantara pendiri Intel, perusahaan pembuat prosesor, pernah mengeluarkan aksioma bahwa transistor yang tidak mahal meningkat eksponensial dalam dua tahun.
Tapi, apakah industri akan segera mengadopsi memrsitor, masih harus dibuktikan dengan waktu. James Tour dan Tao He dari Universitas Rice di Houston menyatakan bahwa walaupun memiliki kelebihan sebagai transistor alternatif, "Konsep memristor harus melewati tebing terjal untuk diterima industri".
Mereka menyatakan industri elektronik akan menerima penggunaan memristor, hanya setelah demonstrasi keberhasilannya dalam produksi skala besar. "Ketika itu terjadi, persaingan untuk membuat alat elektronik yang lebih kecil akan berlangsung sengit," kata keduanya. (tempointeraktif.com/ humasristek)
Seminar Techno For Life
Institut Teknologi Telkom (IT Telkom) menggelar seminar yang bertajuk Techno For Life. Acara berlangsung di Gedung Serba Guna kampus IT Telkom, Kamis (27/5). Seminar menghadirkan pembicara di antaranya Staf Ahli Kementrian Riset dan Teknologi RI Bidang Komunikasi dan Informasi, Dr. Engkos Koswara, MSc, Presiden Direktur PT Inti, Irfan Setia Putra.
Seminar Techno For Life merupakan bagian dari rangkaian dari kegiatan Techno Festifal 2010 : Charity For Technology. Menurut Koordinator Techno Festifal 2010 : Charity For Technology, Tunggul Aditya, seminar bertujuan untuk menumbuhkan budaya riset dan merangsang inspirasi untuk melakukan riset.
Dalam seminar tersebut, Engkos pun menyinggung hal riset. Pemerintah memiliki agenda riset nasioal bidang teknologi informasi dan komunikasi. Ia menyebutkan, dalam menguatkan sistem inovasi nasional pemerintah melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi. Karena ada beberapa rencana jangka panjang pemerintah di bidang riset. Di antaranya riset di bidang ketahanan energi, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dan penyediaan tekno tranportasi.
Apa kata mereka tentang GEMASTIK
Bapak Achamd Rizal
Sejarah
Gemastik lahir akibat suatu kometisi yang mencakup semua bidang yaitu PIMNAS (Pekan Ilmiah Nasional). Sebagai institut yang focus di bidang teknik, IT Telkom menganggap PIMNAS tidak sesuai dengan komposisi kita sebagai mahasiswa teknik. Oleh karena itu, Pak Imam yang menjabat sebagai rector IT Telkom saat itu,mengajukan ide ke Dikti untuk mengadakan suatu kompetisi di bidang IT dengan nama Gemastik (Pagelaraan Mahasiswa di Bidang Teknologi Informasi). Pada akhir 2007, Dikti menyetujui penyelenggaraan Gemastik dan IT Telkom yang menjadi tuan rumah serta penanggung jawab acara tersebut. Acara Gemastik pertama kali diselenggarakan pada Maret 2008, yang bertempatkan di IT Telkom. Gemastik kedua juga diselenggarakan di IT Telkom, dengan tujuan pemantapan rancangan konsep dan sistem Gemastik, sehingga parameter penilaiannya tidak akan berubah ketika diadakan di Kampus lainnya.
Manfaat
Gemastik merupakan kesempatan bagi IT Telkom untuk meningkatkan pencitraan dan memperkenalkan potensi IT Telkom kepada universitas/institute lain di Indonesia. Pada Gemastik pertama, IT Telkom berhasil menempati di posisi yang sangat membanggakan, juara umum. Sedangkan pada Gemastik yang kedua, IT Telkom mengalami penurunan posisi, perbedaan score dengan juara umumsangat tipis, terletak di lomba network security, sehingga IT Telkom tidak mendapatkan emas pada saat itu.
Gemastik merupakan ajang bagi seorang mahasiswa teknik untuk mengukur kemampuan dan keahlian di bidang ICT. IT Telkom sangat mendukung dan menghargai mahasiwa yang mengikuti Gemastik walaupun nantinya tidak masuk babak final ataupun keluar sebagai pemenang.
Persiapan
Pihak rektorat telah melakukan persiapan yang begitu matang dengan meminta Kaprodi menempatkan satu pembina atau pembimbing di setiap kontingen yang akan diikutsertakan dalam Gemastik. Untuk menghadapi Gemastik ketiga, IT Telkom mengadakan pendekatan dan pengenalan Gemastik kepada mahasiswa ITTelkom yang di sebut dengan Open Mind, yang akan dilaksanakan pada Selasa, 11 Mei 2010 pada pukul 19.00 WIB yang bertempat di Gedung K.
Setelah mengadakan pendekatan secara global, langkah selanjutnya pihak insitusi
akan juga melakukan pendekatan BEM, semua HIMPUNAN, Perwakilan Lab dengan
tujuan untuk mendapatkan leader yang akan membantu dalam memilih mahasiswa yang berpotensi untuk mengikuti Gemastik. Angkatan 2009 diharapkan untuk mengikuti Gemastik karena himpunan, perwakilan lab, bahkan pihak institusi akan membantu dan mendorong angkatan 2009 untuk ikut turut serta dalam menyumbangkan ide kreatif.
Jadi, Gemastik adalah suatu momentum untuk memperlihatkan kemampuan kita baik dikenal secara internal maupun eksternal. Tunjukkan kita bisa !!
Billhasry Ramdhoni ( Presma IT Telkom)
Gemastik merupakan suatu kompetisi untuk menunjukkan kreativitas mahasiswa di bidang TIK. Kegiataan ini menjadi ajang yang dapat membuat mahasiswa termotivasi untuk bersaing secara akademik. “saya berharap, IT TELKOM bisa mengulang prestasi seperti di gemastik pertama yang memperoleh juara umum, karena tidak sedikit pendaftar dari IT TELKOM yang mengikutiajang tersebut”, harapan Presma. Mahasiswa harus yakin terhadap kemampuannya dan jangan merasa takut untuk mencoba karenakompetisi ini tidak ada syarat – syarat khusus secara akademik.
Wahyu Prihantoro (Wapresma IT Telkom)
Gemastik merupakan suatu kompetisi di bidang TIK dengan berbagai bidang yang dilombakan. Secara publikasi gemastik masih sangat kurang, terbukti dari kurangnya variasi target peserta yang berpartisipasi. Pihak kampus hanya menaruh perhatian kepada mahasiswa yang terdaftar dalam perkumpulan dunia IT, padahal bisa saja ada mahasiswa lain yang berminat tapi kurang diperhatikan oleh pihak kampus. Untuk menghadapi Gemastik yang sebenarnya, sebaiknya pihak kampus mengadakan simulasi sederhana dari Gemastik tersebut.
Sukses Gemastik 2010

Pernah bermimpi jadi juara di Gemastik? Jangan cuma mimpi, ayo wujudkan mimpi kamu!
Seperti kakak kita, Dodi Qori Utama, lulusan Teknik Informatika angkatan 2005, ini berhasil merebut juara III gemastik 2008 lalu untuk kategori Application Contest bersama timnya. Kak Dodi bersama timnya kali itu menciptakan sebuah aplikasi bernama CHAROLINE yang diperuntukkan kepada anak-anak yang tidak bersekolah. Selain itu, kak Dodi memang sering sekali mengikuti lomba – lomba semacam Gemastik, contohnya seperti Imagine Cup dan PIMNAS.
Pada awalnya, kak Dodi dan timnya, mendapat ide CHAROLINE ini ketika sedang berjalan – jalan di Desa Sukabirus. Mereka, mendapati banyak sekali anak-anak yang tidak bersekolah karena tidak memiliki biaya yang cukup. Atas keprihatinan mereka tersebut, munculah ide untuk membuat CHAROLINE, sebuah pola hidup baru demi kemajuan semua anak di Seluruh Indonesia. Sebagai informasi, CHAROLINE ini merupakan aplikasi online semacam facebook yang membernya merupakan anak-anak kurang mampu tersebut.
Kak Dodi juga punya Tips & Trik menarik untuk bisa sukses di Gemastik, loh!
Yang pertama sekali, menurut kak Dodi, kita tidak boleh takut untuk ikut. Kebanyakan dari kita mungkin merasa tidak cocok atau tidak mampu menghasilkan suatu karya yang sempurna, tapi, kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan tau. Lagipula, program yang kita buat tidak harus jadi 100%, yang penting adalah kita bisa menunjukkan suatu inovasi melalui karya kita. Dan yang gak kalah pentingnya, kita juga harus bisa tunjukkin ke para juri, seberapa pentingnya aplikasi yang kita buat.
Nah, kalau sudah lolos ke semifinal, untuk bagian presentasi, buatlah presentasi semenarik mungkin dan upayakan menitikberatkan ke poin-poin yang kita anggap penting. Upayakan juga agar maksud kita tersampaikan. Presentasi ini ternyata juga gak harus formal. Contohnya saja, tim yang mendapatkan juara I pada Application Contest Gemastik 2008, mempresentasikan karyanya dengan bermain sulap. Contoh lain tim bimbingan Kak Dodi pada Application Contest Gemastik 2009, mempresentasikan aplikasi pendeteksi jantung dengan handphone dengan drama. Menarik kan?Tapi walaupun begitu, jangan lupa,semua itu hanya media penyampaian, jadi jangan sampai keluar dari konteks apa yang ingin kita sampaikan.
So, tunggu apalagi? Ajak teman-teman kamu dan daftarkan tim kalian di gemastik.its.ac.id sekarang juga!!!

